Minggu, 09 Maret 2014

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

NAMA : RINA DANIATI
NPM    : 49211454


ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Tujuan utama dari manajemen adalah memaksimalkan nilai perusahaan. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan harus memanfaatkan keunggulan dari kekuatan perusahaan dan secara terus menerus memperbaiki kelemahan – kelemahan yang ada. Analisis laporan keuangan mencakup perbandingan kinerja perusahaan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama, evaluasi kecenderungan posisi keuangan perusahaan sepanjang waktu. Banyak teknik yang dapat digunakan untuk menganalisa laporan keuangan, namun pembahasan ini dibatasi hanya pada analisa rasio-rasio keuangan.

1. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas menunjukkan hubungan kas dan aktiva lancar lainnya dengan kewajiban lancar. Posisi likuiditas perusahaan akan sangat berhubungan dengan kemampuan perusahaan melunasi kewajiban jangka pendeknya.


- Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio lancar =    aktiva lancar
                           Kewajiban lancar

 Misalnya PT KASKUS memiliki rasio lancar 2.5 kali, dimana rasio lancar rata-rata perusahaan dalam industri di mana PT KASKUS itu berada adalah 3.6 kali. Hal ini berarti bahwa rasio lancar PT KASKUS lebih rendah daripada rasio lancar rata-rata perusahaan dalam industri. Bila rasio lancar suatu perusahaan jauh dari rata-rata industri, maka manajemen perusahaan harus menganalisa lebih lanjut mengapa hal ini terjadi.

- Rasio Cepat (Acid Test)

Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa mengandalkan persediaan.
Rasio Cepat = aktiva lancar – pesediaan
                              Kewajiaban lancar
Misalnya rasio cepat PT KASKUS adalah 1.5 kali dan rasio cepat rata-rata perusahaan dalam industri adalah 3 kali, maka berarti rasio cepat PT KASKUS jauh lebih rendah daripada rasio cepat rata-rata perusahaan dalam industri. Jika PT KASKUS mampu menagih piutang usahanya, maka PT KASKUS dapat melunasi kewajiban lancarnya tanpa melikiuidasi persediaan.

2. Rasio Pengelelolaan Aktiva
Rasio pengelolaan aktiva ini mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya. Rasio ini juga untuk melihat kewajaran nilai aktiva pada neraca, sehingga nilai aktiva yang disajikan tidak terlalu tinggi, terlalu rendah.

- Rasio perputaran persediaan (inventory turn over ratio)

Rasio ini bertujuan untuk menunjukkan perputara persediaan perusahaan. Semakin cepat tingkat perputaran persediaan, maka semakin besar tingkat keberhasilan perusahaan.
Rasio Perputaran Persediaan = penjualan
                                                        persediaan
Misalnya rasio perputaran PT KASKUS adalah 5 kali dimana rasio perputaran persediaan rata-rata perusahaan dalam industri adalah 9 kali. Hal ini berarti tingkat perputaran persediaan PT KASKUS jauh lebih rendah daripada tingkat perputaran persediaan perusahaan lain dalam industri. Hal ini juga menunjukkan bahwa PT KASKUS menyimpan terlalu banyak persediaan, lebih jauh, hal ini menunjukkan bahwa PT KASKUS tidak produktif dalam mengelola persediaannya. Dalam analisis lebih lanjut, tingkat perputaran persediaan yang begitu lancar membuat manajemen harus menganalisa rasio lancarnya. PersediaanPenjualan

- Rasio Periode Penagihan Rata-Rata (Day Sales Outstanding – DSO)
Rasio ini digunakan untuk menaksir berapa lama jangka waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk merealisasikan penerimaan kas atas penjualan yang telah dilakukan.

DSO  =             piutang                                              piutang
              Rata-rata penjualan/hari           penjualan tahunan/ 360

Misalnya DSO PT KASKUS adalah 40 hari dimana DSO rata-rata perusahaan dalam industri adalah 30 hari. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan PT KASKUS untuk menagih piutangnya kepada pembeli lebih rendah dari pada kemampuan perusahaan lain dalam industri

- Rasio Perputaran Aktiva Tetap (fixed assets turn over ratio)

Rasio ini berfungsi untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menggunakan aktiva tetapnya (pabrik, mesin, peralatan, dll.)
Rasio Perputaran Aktiva Tetap =     penjualan
                                                            Aktiva tetap bersih                           
Misalkan rasio perputaran aktiva tetap PT Japurut adalah 4 kali dimana rasio perputaran aktiva tetap rata-rata perusahaan dalam industri adalah 4 kali. Hal ini menunjukkan bahwa dalam penggunaan aktiva tetapnya PT Japurut memiliki tingkat efektifitas yang sama jika dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industry.
Permasalahan yang mungkin muncul pada waktu manajemen mengartikan rasio perputaran akitva tetap adalah inflasi. Inflasi dapat menyebabkan nilai sebagian besar aktiva yang dibeli di masa lalu akan dinyatakan terlalu rendah (ingat prinsip pengakuan biaya historis)

- Rasio Peruputaran Total Aktiva (total assets turnover ratio)

Rasio perputaran total aktiva ini berfungsi untuk mengukur perputaran semua aktiva perusahaan.

Rasio Perputaran Total Aktiva = penjualan
                                                          Total aktiva
Misalkan rasio perputaran total aktiva PT Japurut adalah 1.8 kali dimana rasio perputaran total aktiva rata-rata perusahaan dalam industri adalah 2.5 kali. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu menghasilkan tingkat penjualan yang cukup jika dibandingkan dengan investasi dalam total aktivanya.

3. Rasio Manajemen Utang

Pembiayaan perusahaan bisa bersumber dari dua pihak; pembiayaan internal atau pembiayaan dari pihak luar (kreditur) melalui utang. Pembiayaan dengan utang atau sering disebut leverage memiliki dampak yang serius bagi perusahaan jika perusahaan ingin mendapatkan tambahan modal melalui utang. Calon kreditur pasti akan sangat-sangat memperhatikan rasio-rasio ini.

- Rasio Total Utang terhadap Total Aktiva (debt ratio)
Rasio ini berfungsi untuk mengukur persentasi dana pembiayaan perusahaan yang disediakan oleh kreditur.
Debt ratio = total hutang         
                       Total aktiva
Misalnya rasio utang PT Japurut adalah 60.2% dimana rata-rata rasio utang perusahaan lain dalam industri adalah 48.5%. Hal ini menunjukkan bahwa kreditor telah memberikan lebih dari setengah pembiayaan perusahaan. Hal ini juga berdampak, jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan, maka perusahaan akan kesulitan mencari tambahan dana dari para kreditur atau calon kreditur. Lebih lanjut, resiko kebangkrutan PT Japurut untuk beberapa waktu ke depan akan jauh lebih besar daripada resiko kebangkrutan perusahaan-perusahaan lain dalam industri.

- Rasio Kelipatan Pembayaran Bunga (time-interest-earned – TIE)

Rasio TIE ini mengukur seberapa besar laba operasi dapat menurun sampai perusahaan tidak dapat memenuhi beban bunga tahunan. Kegagalan memenuhi kewajiban ini akan mengakibatkan adanya tindakan hukum dari pemberi pinjaman. Lebih jauh, kegagalan memenuhi kewajiban tersebut juga mungkin menyebabkan kebangkrutan.
TIE =       EBIT               
         BebanBunga         
Misalkan rasio kelipatan pembayaran bunga (TIE) PT Japurut adalah sebesar 3.2 kali, dimana rasio kelipatan pembayaran bunga industri adalah 6 kali. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan PT Japurut untuk menutupi beban bunganya hanya 3.2 kali dan ini jauh daripada kemampuan rata-rata perusahaan-perusahaan lain dalam industri.

- Rasio Cakupan Beban Tetap (fixed charge coverage ratio)

Fungsi rasio ini serupa dengan rasio kelipatan pembayaran bunga, tetapi rasio ini melihat lebih jauh karena mengakui bahwa ada aktiva perusahaan yang disewa (lease) dan harus melakukan pembyaran dana pelunasan (sinking fund)

Rasio cakupan beban =                    ebit + pembayaran lease
                                Beban bunga+ pembayaranlease+pembarandanapelunasan
                                                                                                            (1-tarif pajak )
tetap Misalkan rasio cakupan beban tetap PT Japurut adalah 3 kali dimana rasio rata-rata industri adalah 5.4 kali. Hal ini menunjukkan bahwa PT Japurut lebih lemah dibanding rata-rata perusahaan dalam industri.  

4. Rasio Profitabilitas

Profitabilitas atau laba adalah hasil dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Hasil dari penerapan strategi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Rasio profitabilitas ini menunjukkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang terhadap hasil operasi.

- Marjin Laba Atas Penjualan

Rasio ini akan menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam setiap nilai rupiah penjualannya
Marjin laba penjualan = laba bersih tersedia untuk pemegang saham
                                                                                    penjualan
Misalkan marjin laba PT Japurut adalah 4% dan marjin laba rata-rata perusahaan dalam industri adalah 5,5%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan menghasilkan laba dalam setiap rupiah penjualannya lebih rendah daripada rata-rata kemampuan perusahaan-perusahaan lain dalam industri. Rendahnya marjin laba PT Japurut ini bisa disebabkan akibat banyaknya penggunaan utang untuk pembiayaan PT Japurut. Ingat bahwa laba bersih adalah pendapatan setelah pajak dan bunga. Sehingga semakin besar utang perusahaan, semakin tinggi beban bunga yang harus dibayarkan, dan semakin rendah laba bersih yang dihasilkan.

- Rasio BEP (Basic Earning Power)

Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva perusahaan untuk menghasilkan laba operasi. Rasio ini juga berguna untuk membandingkan perusahaan dengan situasi pajak yang berbeda dan tingkat utang yang berbeda.

Rasio BEP =     ebit
                     Total aktiva
Misalkan Rasio BEP PT Japurut adalah 15,3% dan rasio rata-rata perusahaan dalam industri adalah 18,3%. Hal ini menjukkan kemampuan PT Japurut untuk menghasilkan laba dari aktiva perusahaan sebelum dikenakan pajak adalah lebih rendah dari kemampuan rata-rata perusahaan dalam industri.

- Pengembalian atas Total Aktiva (ROA – Return on Asset)

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atas penggunaan seluruh aktivanya dalam kegiatan operasinya.
ROA = laba bersih untuk pemegang saham biasa
                                    Total aktiva

Misalkan ROA PT Japurut adalah 4.8% dimana rasio rata-rata perusahaan dalam industri adalah 10%, hal ini menujukkan bahwa tingkat pengembalian atas penggunaan aktiva PT Japurut jauh dibawah tingkat pengembalian rata-rata perusahaan dalam industri. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh; 1)Rendahnya BEP (Basic Earning Power) perusahaan, 2) tingkat bunga yang tinggi akibat pengunaan kewajiban yang demikian besarnya.

- Pengembalian atas Ekuitas Saham Biasa (Return on common equity – ROE)

Rasio ini berfungsi untuk mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham.
ROE = laba bersih untuk pemegang saham biasa
                            Ekuitas saham biasa
Misalkan rasio ROE PT Japurut adalah 13,3% dan rasio ROE rata-rata perusahaan dalam industri adalah 15.5%. Dari sini dapat kita lihat bahwa ROE PT Japurut masih tetap di bawah rasio rata-rata perusahaan dalam industri.

5. Rasio Nilai Pasar (Market Value Ratio)

Rasio nilai pasar memberikan manajemen petunjuk mengenai apa yang akan dipikirkan investor mengenai kinerja perusahaan pada suatu periode serta prospek perusahaan tersebut pada periode yang akan datang. Jika rasio likuiditas, manajemen aktiva, manajemen hutang, dan rasio profitabilitas perusahaan baik, maka rasio nilai pasarnyapun akan menjadi tinggi. Lebih jauh, harga saham perusahaanpun akan setinggi nilai yang diharapkan.

- Rasio Harga-Laba (price-earning ratio)

Rasio ini menunjukkan jumlah rupiah yang akan dibayarkan kepada investor untuk setiap rupiah yang dia tanamkan pada perusahaan.
Rasio Harga-Laba Misalkah rasio harga-laba PT Japurut adalah sebesar 9.5 kali dimana rasio harga-laba rata-rata perusahaan dalam industri adalah 12 kali, maka resiko yang akan didapati oleh investor jika menanamkan modalnya pada PT Japurut akan lebih tinggi dibanding jika investor tersebut menanamkan modalnya pada perusahaan lain sejenis.

- Rasio Nilai Pasar/Buku (market/book ratio)

Rasio nilai pasar buku ini memberikan indikasi bagi manajemen perusahaan mengenai bagaimana pandangan investor terhadap perusahaan. Perusahaan yang tingkat ekuitasnya tinggi pada umumnya akan menjual sahamnya lebih tinggi beberapa kali dari nilai bukunya. Rasio nilai pasar/bukuMisalkan rasio nilai pasar/buku PT Japurut adalah sebesar 1.5 kali dimana rasio rata-rata perusahaan dalam industri adalah sebesar 2 kali, maka ini berarti bahwa investor akan bersedia membayar lebih kecil untuk setiap rupiah dari nilai buku perusahaan dibanding yang investor bersedia bayarkan kepada perusahaan lain dalam industri.